Sabtu, 10 November 2012

Makalah Keperawatan Jiwa (Gangguan Orientasi Realita)


BAB I
PENDAHULUHAN

1.1  Latar Belakang
Gangguan orientasi realitas adalah ketidakmampuan klien menilai dan berespons pada realitas. Klien tidak dapat membedakan rangsangan internal dan eksternal, tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan. Klien tidak mampu memberi respons secara akurat, sehingga tampak perilaku yang sukar dimengerti dan mungkin menakutkan.
Gangguan orientasi realitas disebabkan oleh fungsi otak yang terganggu yaitu fungsi kognitif dan isi fikir; fungsi persepsi, fungsi emosi, fungsi motorik dan fungsi sosial. Gangguan pada fungsi kognitif dan persepsi mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik terganggu. Gangguan fungsi emosi, motorik dan sosial mengakibatkan kemampuan berespons terganggu yang tampak dari perilaku non verbal (ekspresi muka, gerakan tubuh) dan perilaku verbal (penampilan hubungan sosial). Oleh karena gangguan orientasi realitas terkait dengan fungsi otak maka gangguan atau respons yang timbul disebut pula respons neurobiologik.
Dalam makalah ini kami akan membahas gangguan orientasi realita yaitu waham dan halusinasi

1.2  Tujuan Penulisan
1.       mengetahui pengertian gangguan orientasi realita.
2.       Mengetahui factor penyebab gangguan orientasi realita
3.      Mengetahui macam-macam gangguan orientasi realita
4.      Mengetahui akibat dari gangguan orientasi realita
5.      Mengetahui rentang respon dari klien dengan gangguan orientasi realita
6.      Mengetahui epidemiologi dari pasien gangguan orientasi realita



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Gangguan Orientasi Realita
Gangguan orientasi realitas adalah ketidakmampuan klien menilai dan berespons pada realitas. Klien tidak dapat membedakan rangsangan internal dan eksternal, tidak dapat membedakan lamunan dan kenyataan. Klien tidak mampu memberi respons secara akurat, sehingga tampak perilaku yang sukar dimengerti dan mungkin menakutkan. Gangguan orientasi realita dibagi menjadi beberapa macam, dan dalam makalah ini kami akan membahas 2 macam saja, yakni gangguan orientasi realita Waham dan Halusinasi.
Waham adalah suatu keyakinan atau pikiran yang salah karena bertentangan dengan kenyataan (dunia realitas), serta dibangun atas unsur-unsur yang tak berdasarkan logika, namun individu tidak mau melepaskan wahamnya walaupun ada bukti tentang ketidakbenaran atas keyakinan itu. Akan tetapi keyakinan dalam bidang agama dan budaya tidak dianggap sebagai waham.
Halusinasi adalah persepsi yang kuat atas suatu peristiwa atau objek yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi dapat terjadi pada setiap panca indra (yaitu penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, atau perabaan). Meskipun halusinasi adalah bagian dari banyak penyakit, ada juga saat-saat di mana ia dianggap normal atau umum, misalnya ketika tertidur atau selama pengalaman religius. Halusinasi dapat terjadi dalam berbagai bentuk yang paralel dengan indra manusia. Halusinasi visual melibatkan indra penglihatan, atau “melihat sesuatu.” Halusinasi pendengaran umumnya melibatkan “pendengaran suara”, jenis paling umum dari halusinasi. Kadang-kadang, halusinasi dapat mencakup pengalaman suara dan visual; profesional kesehatan mental menggambarkannya sebagai “halusinasi auditori-visual.” Mencium adanya bau atau merasakan ada sesuatu di kulit seseorang yang sebenarnya tidak ada adalah bentuk-bentuk halusinasi somatik (berasal dari soma, kata Yunani untuk tubuh). Perbedaan halusinasi dengan delusi adalah bahwa delusi merupakan kesalahpahaman atas hal-hal yang secara objektif hadir.

2.2  Faktor Penyebab Gangguan Orientasi Realita
A.    Waham
Waham merupakan salah satu contoh dari gangguan orientasi realita. Yang disebabkan oleh perubahan pada fungsi otak terutama fungsi kognitif dan isi piker yang meliputi fungsi presepsi, fungsi emosi, fungsi motorik dan fungsi social.
Namun, ada factor predisposisi yang mendukung seseorang menderita gangguan orientasi realita waham, yakni :
·         Faktor Biologis
-Gangguan perkembangan otak, frontal dan temporal
-Lesi pada korteks frontal, temporal dan limbic
-Gangguan tumbuh kembang
-Kembar monozigot, lebih beresiko dari kembar dua telur
·         Faktor Genetik
Gangguan orientasi realita yang ditemukan pada klien dengan skizoprenia
·         Faktor Psikologis
-Ibu pengasuh yang cemas/over protektif, dingin, tidak sensitive
-Hubungan dengan ayah tidak dekat/perhatian yang berlebihan
-Konflik perkawinan
-Komunikasi “double bind”
·         Sosial budaya
-Kemiskinan
-Ketidakharmonisan sosial 
-Stress yang menumpuk
Selain predisposisi, factor presipitasi yang mencetus seorang klien mengalami gangguan orientasi waham, di antaranya :
·         Stressor sosial budaya
Stres dan kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang paling penting, atau diasingkan dari kelompok.
·         Faktor biokimia
Penelitian tentang pengaruh dopamine, inorefinefrin, lindolomin, zat halusinogen diduga berkaitan dengan orientasi realita
·         Faktor psikologi
Intensitas kecemasan yang ekstrim dan menunjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan berkurangnya orientasi realita.




B.     Halusinasi
Halusinasi merupakan contoh lain dari gangguan orientasi realita yang kami bahas. Halusinasi berbeda dengan ilusi, dimana klien mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus. Salah persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang terjadi, stimulus internal dipersepsikan sebagai sesuatu yang nyata bagi pasien.
Menurut Stuart (2007), factor penyebab terjadinya halusinasi juga dibedakan menjadi factor predisposisi dan presipitasi.
Faktor predisposisi adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Diperoleh baik dari klien maupun keluarganya, factor predisposisi yang dapat membuat seseorang terkena gangguan orientasi realita halusinasi antara lain :
·         Faktor perkembangan
Jika tugas perkembangan mengalami hambatan dan hubungan Interpersonal terganggu maka individu akan mengalami stres dan kecemasan.
·         Faktor sosiokultural
Berbagai factor di masyarakat dapat menyebabkan seseorang merasa disingkirkan oleh kesepian terhadap lingkungan tempat klien dibesarkan.
·         Faktor biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Dengan adanya stres yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam tubuh akan dhasilkan suatu zay yang dapat bersifat halusinogenik neuorokimia seperti buffofenon dan dimitytranferase (DMP)
·         Faktor psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis serta adanya peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak akan mengakibatkan stres, kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realitas.
·         Faktor genetic
Gen apa yang berpengaruh dalam skizoprenia belum diketahui, tetapi hasil studi menunjukkan bahwa factor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.

Faktor presipitasi yaitu stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman atau tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Adanya rangsangan lingkungan yang sering yaitu seperti partisipasi klien dalam kelompok, terlalu diajak komunikasi, objek yang ada dilingkungan suasana sepi/isolasi adalah sering sebagai pencetus terjadinya halusinasi karena hal tersebut dapat meningkatkan stres dan kecemasan yang merangsang tubuh mengeluarkan zat halusinogenik.

2.3  Macam-macam gangguan orientasi realita
a.       Waham
Menurut  Mayer Gross, waham dibagi 2 macam :
·         Waham Primer
Timbul secara tidak logis sama sekali serta tanpa disertai penyebab apapun dari luar. Misal seseorang merasa istrinya sedang selingkuh sebab ia melihat seekor cicak berjalan dan berhenti dua kali.
·         Waham Sekunder
Biasanya logis kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara bagi penderita untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lainnya.
Menurut beberapa referensi yang kami baca ada beberapa jenis waham yakni :
·         Waham Kejar
Klien mempunyai keyakinan ada orang atau komplotan yang sedang mengganggunya atau mengatakan bahwa ia sedang ditipu, dimata-matai atau kejelekannya sedang dibicarakan
·         Waham Somatik
Keyakinan tentang (sebagian) tubuhnya yang tidak mungkin benar, umpamanya bahwa ususnya sudah busuk, otaknya sudah cair, ada seekor kuda didalam perutnya.
·         Waham Kebesaran
Klien meyakini bahwa ia mempunyai kekuatan, pendidikan, kepandaian atau kekayaan yang luar biasa, umpamanya ia adalah Ratu Kecantikan, dapat membaca pikiran orang lain, ataupun mempunyai puluhan rumah atau mobil.
·         Waham Agama
Keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkan secara berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
·         Waham Dosa
Keyakinan bahwa ia telah berbuat dosa atau kesalahan yang besar, yang tidak dapat diampuni atau bahwa ia bertanggung jawab atas suatu kejadian yang tidak baik, misalnya kecelakaan keluarga, karena pikirannya yang tidak baik.
·         Waham Pengaruh
Yakin bahwa pikirannya, emosi atau perbuatannya diawasi atau dipengaruhi oleh orang lain atau suatu kekuatan yang aneh
·         Waham Curiga
Klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusah merugikan atau mencederai dirinya yang disampaikan secara berulang-ulang dan tidak sesuai dengan kenyataan
·         Waham Nihilistik
Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia atau meninggal yang dinyatakan secara berulang-ulang dan tidak sesuai dengan kenyataan
·         Delusion of reference
Pikiran yang salah bahwa tingkah laku seseorang ada hubunganya dengan dirinya

b.      Halusinasi
·         Halusinasi Pendengaran
Beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian dari halusinasi pendengaran:
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut( kliat, 2006 ).
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan, mesin, barang, kejadian alamiah dan musik dalam keaadan sadar tanpa adanya rangsangan apapun (maramis, 2005).
Halusinasi pendengaran adalah persepsi sensorik yang keliru melibatkan panca indra pendengaran (isaac,2002).
·         Halusinasi Penglihatan
stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambar geometric, gambar karton, dan/atau panorama yang luasdan kompleks. Penglihatan dapat berupa sesuatu yang menyenangkan atau yang menakutkan seperti monster. ( Stuart and Sundeen, Alih bahasaAchir Yani S. Hamid, 1998 : 306 )
·         Halusinasi Penciuman
 Halusinasi yang seolah-olah mencium bau busuk, amis atau bau yang menjijikan (darah,urine,atau feces).
·         Halusinasi Pengecap
Halusinasi yang seolah-olah merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikan.
·         Halusinasi Raba/Taktil
Halusinasi yang seolah-olah mengalami sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat, merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati, atau orang lain.

2.4  Akibat gangguan orientasi realita
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Sedangkan pada pasien dengan gangguan orientasi halusinasi dapat berakibat adalah kehilangan kontrol dirinya. Dimana pasien mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh halusinasinya. Dalam situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri  (suicide), membunuh orang lain  (homicide), bahkan
merusak lingkungan. Untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan, dibutuhkan
penanganan halusinasi yang tepat (Hawari 2009, dikutip dari Chaery 2009).

2.5  Rentang respon pada klien dengan gangguan orientasi realita
Gangguan isi pikir merupakan ketidakmampuan individu memproses stimulus eksternal dan internal secara akurat. Gangguannya adalah dapat berupa waham, dan juga dapat berupa halusinasi. Berikut kami akan memaparkan rentang respon pada klien dengan gangguan orientasi baik itu waham atau halusinasi.
Adaptif                                                                                                     Maladaptif
Pikiran logis                      Proses pikir                              Gangguan proses pikir : waham
Persepsi akurat                  Kadang ilusi                            PSP : halusinasi
Emosi konsisten                Emosi+/-                                  Kerusakan emosi
Perilaku sesuai                   Perilaku tidak sesuai               Perilaku tidak sesuai
Hubungan sosial                Menarik diri                            Isolasi sosial terorganisir

2.6  Epidemiologi
Pasien-pasien (cenderung berusia 40 thn) mungkin tidak dapat dikenali sampai waham mereka dikenali oleh keluarga dan teman temannya. Ia cenderung mengalami isolasi baik karena keinginan mereka sendirian atau akibat ketidakramahan mereka (misalnya pasangan mengabaikan mereka). Apabila terdapat disfungsi pekerjaan dan sosial,biasanya hal ini merupakan respon langsung terhadap waham mereka. Isi waham bergantung pula pada latar belakang sosio – kultural dan taraf pendidikan seseorang. misalnya seorang pasien suku dayak mempunyai waham kebesaran,tidaklah mungkin pasien itu mengatakan ia adalah sisingamangaraja. Oleh karena dalam kultur kaya kita tidak dikenal seseorang yang bernama sisingamangaraja tersebut. Lain halnya kalau pasien tadi telah tinggal lama di daerah tapanuli atau pasien ini pernah membaca tentang sisingamangaraja. Contoh lainnya yaitu pasien yang tidak pernah sekolah yang mempunyai waham kebesaran,tidaklah mungkin ia mengatakan kalau sinar X itu dialah yang menemukan.

BAB III
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Orientasi Realita

3.1 Waham
Dalam bab asuhan keperawatan ini, pertama-tama kami akan mengangkat masalah keperawatan perubahan proses pikir “Waham”.
Yang meliputi data subjektif berupa klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.sedangkan data objektifnya klien tampak curiga, panik, bermusuhan, merusak diri sendiri, lingkungan maupun orang lain. Terkadang terlihat sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan atau realitas serta menunjukan ekspresi wajah tegang.
Diagnosa Keperawatan
1. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham
2. Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah
Intervensi Keperawatan
1.      Diagnosa 1 : Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
·         Tujuan umum : klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.
·         Tujuan khusus : klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
Rasional : hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksi.
Tindakan :
·         Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (topik, waktu, tempat).
·         Jangan membantah atau mendukung waham klien. Katakan perawat menerima keyakinan klien “saya menerima keyakinan anda” disertai dengan ekspresi menerima, katakana perawat tidak mendukung disertai dengan ekspresi ragu dan empati, serta tidak membicarakan isi waham klien.
·         Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi : katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman. Gunakan keterbukaan dan kejujuran serta jangan pernah tinggalkan pasien sendiri.
·         Observasi apakah waham yang diderita klien ini mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.
2.      klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki.
Rasional : dengan kemampuan yang dimiliki klien, maka akan memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi klien daripada hanya memikirkannya.
Tindakan :
·         beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
·         Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini realistis.
·         Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari-hari dan perawatan diri).
·         Jika klien selalu berbicara mengenai wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada, dan perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.
3.      klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Rasional : dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan kebutuhan klien tersebut sehingga klien merasa aman dan nyaman.
Tindakan 
Observasi kebutuhan klien sehari-hari
Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah)
Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin)
Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.
4.      klien dapat berhungan dengan realita.
Rasional : menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu benar daripada apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat menghilangkan waham yang ada.
Tindakan :
·         berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri. Orang lain, tempat dan waktu).
·         Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
·         Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien.
5.      klien dapat menggunakan obat dengan benar.
Rasional : penggunaan obat secara teratur dan benar akan mempengaruhi proses penyembuhan.
Tindakan :
·         Diskusikan dengan klien tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat.
·         Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu).
·         Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
·         Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.
6.      klien dapat dukungan dari keluarga.
Rasional : dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan membantu proses penyembuhan klien.
Tindakan :
·         Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang : gejala waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan follow up obat.
·         Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga

2.      Diagnosa 2 : perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah.

Tujuan umum : klien tidak terjadi perubahan proses pikir : waham dan klien akan meningkat harga dirinya.
Tujuan khusus :
1.      klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan :
·         Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
·         Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
·         Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
·         Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri
2.      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki.
Tindakan :
·         Klien dapat menilai kemampuan yang dapat Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
·         Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis
·         Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

3.      Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan.
Tindakan :
·         Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
·         Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah

4.      Klien dapat menetapkan atau merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Tindakan :
·         Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
·         Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
·         Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

5.      Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan.
Tindakan :
·         Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
·         Beri pujian atas keberhasilan klien
·         Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

6.      Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada.
Tindakan :
·         Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien.
·         Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat.
·         Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
·         Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
Evaluasi
  1. Klien percaya dengan perawat, terbuka untuk ekspresi waham.
  2. Klien menyadari kaitan kebutuhan yg tdk terpenuhi dg keyakinannya (waham) saat ini.
  3. Klien dapat melakukan upaya untuk mengontrol waham.
  4. Keluarga mendukung dan bersikap terapeutik terhadap klien.
  5. Klien menggunakan obat sesuai program.

3.2 Halusinasi
A. Pengkajian
Sangat penting untuk mengkaji perintah yang diberikan lewat isi halusinasi klien. Karena mungkin saja klien mendengar perintah menyakiti orang lain, membunuh, atau loncat jendela. Maka dari itu pengkajian pada klien halusinasi dilakukan dengan cara :
1.      Membina hubungan saling percaya
Tindakan pertama dalam melakukan pengkajian klien dengan halusinasi adalah membina hubungan saling percaya, sebagai berikut :
·         Awali pertemuan dengan selalu mengucapkan salam. Misalnya: Assalamu’alaikum, selamat pagi/siang atau sesuai dengan konteks agama pasien.
·         Berkenalan dengan pasien. Perkenalkan nama lengkap dan nama panggilan perawat termasuk peran, jam dinas, ruangan, dan senang dipanggil dengan apa.
·         Buat kontrak asuhan. Jelaskan kepada paien tujuan kita merawat klien, aktivitas apa yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujua itu, kapan aktivitas akan dilaksanakan, dan berapa lama akan dilaksanakan aktivitas tersebut.
·         Bersikap empati yang ditunjukkan dengan: Mendengar keluhan paasien dengan penuh perhatian; Tidak membantah dan tidak menyokong halusinasi pasien; Segera menolong pasien jika pasien membutuhkan perawat.’
2.      Mengkaji data objektif dan subjektif
Mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan mengobservasi perilaku pasien dan menanyakan secara verbal apa yang sedang dialami pasien. Data objektif dikaji perawat dengan cara mengobservasi perilaku pasien, memeriksa, mengukur, sedangkan data subjektif didapatkan dengan cara wawancara, curahan hati, ungkapan-ungkapan klien, apa-apa yang dirasakan dan didengar klien secara subjektif.
3.      Mengkaji waktu, frekuensi dan situasi munculnya halusinasi
Perawat juga perlu mengkaji waktu, frekuensi dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh pasien. Hal ini dilakukan untuk menentukan intervensi khusus pada waktu terjadinya halusinasi, menghindari situasi yang menyebabkan munculnya halusinasi. Sehingga pasien tidak larut dengan halusinasinya. Dengan mengetahui frekuensi terjadinya halusinasi dapat direncanakan frekuensi tindakan untuk mencegah terjadinya halusinasi.
4.      Mengkaji respon terhadap halusinasi
Untuk mengetahui dampak halusinasi pada klien dan apa respons klien ketika halusinasi itu muncul, perawat dapat menanyakan pada klien hal yang dirasakan atau dilakukan saat halusinasi timbul. Perawat dapat juga menanyakan kepada keluarga atau orang terdekat dengan klien. Selain itu dapat juga dengan mengobservasi dampak halusinasi pada klien jika halusinasi timbul. Selain mengkaji mengenai halusinasinya perawat juga mengkaji factor predisposisi, perilaku, fisik dan status emosi.

B. Diagnosa Keperawatan
1.      Resiko tinggi perilaku kekerasan
2.      Perubahan persepsi sensori halusinasi
3.      Isolasi social
4.      Harga diri rendah kronis
C.       Tindakan Keperawatan
1.      Membantu klien mengenali halusinasi
Perawat mencoba menanyakan pada klien tentang isi halusinasi, waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan perasaan pasien saat halusinasi muncul.
2.      Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara :
·         Menghardik halusinasi
Yaitu upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Tahapan tindakannya meliputi menjelaskan cara menghardik halusinasi, memperagakan cara meghardik halusinasi, meminta pasien memperagakan ulang, memantau penerapan cara ini dengan menguatkan perilaku pasien, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktifitas yang terjadwal, menggunakan obat secara teratur.
·         Melatih bercakap-cakap dengan orang lain
Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi; focus perhatian pasien akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan orang lain. Sehingga salah satu cara yang efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain.
·         Melatih klien beraktivitas secara terjadwal
Libatkan klien dalam terapi modalitas, untuk mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukan diri dengan membimbing klien membuat jadwal yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, klien tidak akan mengalami banyak waktu luang yang seringkali mencetuskan halusinasi. Tahapan intervensinya sebagai berikut : menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur, mendiskusikan aktivitas yang teratur, mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan pasien, melatih pasien melakukan aktivitas, menyusun jadwal aktivitas sehari-hari, memantau pelaksanaan jadwal kegiatan.
·         Melatih pasien menggunakan obat secara teratur
Agar klien mampu mengontrol halusinasi maka perlu dilatih untuk menggunakan obat secara teratur sesuai program. Klien yang mengalami putus obat seringkali mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan terjadi maka untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit.  Tahapan intervensinya sebagai berikut : jelaskan pentingnya penggunaan obat, jelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai program, jelaskan akibat bila putus obat, jelaskan cara mendapat obat, jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 6 benar.
·         Pemberian psikofarmaterapi
Gejala halusinasi sebagai salah satu gejala skizofernia biasanya diatas dengan menggunakan obat-obatan anti psikotik antara lain : haloperidol. Haldol, serenance, dan chlorpromazine.
·         Memantau efek samping obat
Perawat perlu memahami efek samping yang sering ditimbulkan oleh obat-obat psikotik seperti : mangantuk, tremor, kaku otot, otot bahu tertarik sebelah, hipersalivasi. Biasanya dokter memberikan obat untuk mengatasinya dengan obat anti parkinsone yaitu Trihexyphenidile.
·         Melibatkan keluarga dalam tindakan
Di antara penyebab kambuh yang paling sering adalah factor keluarga dan klien itu sendiri. Keluarga adalah support system terdekat. Keluarga yang mendukung klien secara konsisten akan membuat klien mandiri dan patuh mengikuti pengobatan. Perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga, informasi yang perlu disampaikan kepada keluarga meliputi : pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi, cara merawat pasien halusinasi, cara berkomunikasi, pengaruh pengobatan dan tata cara pemberian obat, pemberian aktivitas kepada klien, sumber-sumber pelayanankesehatan yang bisa dijangkau, pengaruh stigma masyarakat terhadap kesembuhan klien.

BAB V
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Halusinasi adalah persepsi yang timbul tanpa stimulus eksternal serta tanpa melibatkan sumber dari luar yang meliputi semua system panca indra. Factor predisposisi penyebab halusinasi seperti factor perkembangan, sosialcultural, biokimia, psikologis, genetic dan pola asuh. Sedangkan factor prepitasi dilihat dari perilaku dari segi dimensi fisik, emosional, intelektual, social dan spiritual. Tipe halusinasi ada beberapa macam yaitu halusinasi dengar, halusinasi penglihatan, halusinasi penghidu, halusinasi perabaan, halusinasi pengecapan dan halusinasi kinestik. Sedangkan tahap terjadinya halusinasi terdiri dari empat fase. Tindakan dalam melakukan pengkajian klien dengan halusinasi adalah membina hubungan saling percaya, mengkaji data objektif dan subjektif, mengkaji waktu, frekuensi dan situasi munculnya halusinasi dan mengkaji respons terhadap halusinasi. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien halusinasi seperti membantu klien mengenali halusinasi dan melatih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik halusinasi, melatih bercakap-cakap, melatih beraktivitas, melatih menggunakan obat secara teratur dan melibatkan keluarga dalam tindakan.
Sedangkan gangguan waham merupakan salah satu gangguan spesifik pada isi pikiran. Waham adalah keyakinan palsu yang didasarkan  pada kesimpulan yang salah tentang kenyataan eksternal yang tidak sejalan denganintelegensia pasien dan latar belakang kultural yang tidak dapat dikoreksi dengan suatu alasan. Waham dari seorang pasien tidak boleh ditentang secara langsung. Waham mungkin merupakan pikiran sebagai suatu pertahanan dan perlindungan diri pasien untukmelawan kecemasan,penurunan harga diri,dan kebingungan. Waham mungkin sangat terfiksasi,tetap dan kronis atau mungkin merupakan subjek pertanyaan dan keraguan dari pasien dan dapat berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. Pasien mungkin dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh keyakinan waham dan mungkin mampu mengenali efeknya.
Waham serta sebagian besar gejala psikatri ini terjadi dalam spektrum dari berat sampai ringan dan harus diperiksa tentang derajat beratnya terfiksasinya,kerumitannya, kekuatan untuk mempengaruhi tindakan pasien dan penyimpangannya dari perilaku normal.
Gangguan waham ditandai keyakinan yang salah dan menetap dan tidak dapat dibuktikan dalam kenyataan
4.2  Saran
Sebagai mahasiswa keperawatan, suatu saat nanti mungkin kita akan dihadapkan pada pasien jiwa dengan gangguan orientasi realita, entah itu waham ataupun halusinasi. Pada pasien waham kita diharapkan untuk bisa menyadarkan dan membawa keyakinan klien kita ke realita tanpa membuat klien tersebut merasa digurui. Kita dianjurkan untuk tidak membenarkan waham klien tapi kita mengajak klien untuk berfikir sesuai dengan logika.
Sedangkan untuk klien dengan gangguan orientasi realita berupa halusinasi, kita diharapkan mampu membantu klien mengatasi halusinasi yang sering dialaminya, dan ada beberapa metode pengobatan yang dapat dipraktekan seperti yang sudah dibahas di atas. Akan tetapi, salah satu kunci agar kita bisa sukses dalam membantu klien dengan masalah kejiwaan adalah adanya rasa percaya yang harus ada antara pasien dengan perawat, dan rasa percaya tersebut timbul melalui komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat. Jika rasa percaya sudah timbul antara pasien dan perawar, maka rencana keperawatan akan dapat dilakukan secara lebih optimal lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan JiwaJakarta : EGC, 1995
Yosep, Iyus. 2009. Keperawatan JiwaBandung: PT Refika Aditama.
 Depkes, Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III.1995.Jakarta; depkes

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Anis Ni'matul Zuhroh Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template